Matahari tidak mau berkompromi pagi ini. Sengatannya tajam. Debu dan asap knalpot angkot hilir mudik menambah pengap. Aku dan mamah - begitu aku memanggil ibuku - sedang duduk di pinggir jalan raya Sumedang. Kami menanti kedatangan bus antar kota yang bisa membawa kami ke Bandung.
Sejak tadi sudah lewat banyak bus, tapi bukan yang kami mau. Aku memperhatikan semua kendaraan yang lewat sambil membaca tulisan di sampingnya. Ada bus B-U-D-I-M-A-N menuju Tasik. Ada elf bertuliskan M-O-T-E-K-A-R jurusan Cirebon-Garut. Ada juga truk dengan tulisan di pantatnya: I’m not father, Aku gak papa.
Aku bisa membaca tulisan-tulisan itu berkat Mamah. Mamah adalah guru pertamaku. Menurut Mamah, huruf pertama yang aku hafal adalah O. Kemana pun aku pergi, kalau bertemu huruf itu aku pasti berteriak, “O!”. Mamah juga yang berlangganan majalah Bobo dan tabloid Fantasi untukku dan koran Pikiran Rakyat untuk Bapak. Dari situ aku membaca berita, senyum karena Mang Ohle, tertawa sebab Bobo, Rong-rong, Paman Kikuk, Oki dan Nirmala.
Aku sebenarnya berharap Nirmala datang sekarang, supaya dia bisa menyihir busnya segera datang. Kami sudah menunggu lebih dari sejam, dan keningku sudah bercucuran keringat.
Walaupun begitu, aku tetap gembira. Karena tujuan kami pergi adalah untuk membeli sepatu roda. Aku sudah memintanya sejak beberapa bulan lalu. Teman-temanku sudah pamer sepatu roda mereka sendiri. Aku tentu tak mau kalah. Tapi tidak ada toko sepatu roda di kota kecil kami. Solusi satu-satunya adalah pergi ke Bandung.
Keinginanku tentu tak bisa dipenuhi segera. Mamah dan Bapa datang dari keluarga sederhana. Bapa adalah PNS di Badan KB Sumedang, Mamah seorang guru SD. Tapi mereka selalu berjuang untuk memenuhi semua kebutuhanku dari mulai makan, pakaian, rumah, sekolah, buku, bahkan yang tersier seperti sepatu roda.
Aku membayangkan kalau saja aku sudah punya sepatu roda, aku akan pakai saja untuk pergi ke Bandung. Tinggal gelindingkan saja rodanya.
Tapi untungnya, bus itu pun akhirnya datang. Mamah melambaikan tangannya untuk menyetopnya. Ia menarik tanganku untuk mendekat. Celakanya bus itu berhenti agak jauh dari tempat kami. Kernet berteriak kepada kami agar cepat menghampiri. Dengan setengah berlari kami mengejar bus tersebut. Aku dan mamah pun tergopoh-gopoh naik di tangga bis.
Tapi baru saja bus itu berjalan beberapa meter, aku menyadari kalau sandal yang aku pakai ternyata cuma sebelah. Aku cari di lantai bus tidak ada. Setengah takut aku berteriak kepada mamah, “Mah, sandal aa kayaknya jatuh ke luar bus!”.
Mamah mengernyitkan dahi dan bertanya, “Kunaon, a? Sudah dicari belum?”. Dia ikut mencari tapi tak ada sandal terlihat. “Ah kumaha sih, a?!”, keluh mamah. “Ya sudah kita turun aja. Ga jadi ke Bandung, mang!”, seru mamah sambil berteriak minta turun pada kernet.
Perasaanku campur aduk, antara takut dimarahi mamah, kecewa tidak jadi ke Bandung, dan marah kenapa aku tidak berhati-hati dengan sandalku. Padahal mamah sudah meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya untuk mengantarku.
Mamah itu juga guruku di sekolah. Mamah mengajar di sekolah yang sama tempat aku bersekolah dasar. Bahkan saat aku di kelas 5, wali kelasku adalah mamah. Tentu kami berbeda peran antara di rumah dan di sekolah. Di sekolah aku memanggilnya bu guru. Aku juga tidak pernah diistimewakan saat belajar.
Di tengah-tengah kesibukannya bekerja, mamah juga memasak untuk keluarga. Masakan mamah adalah masakan favoritku: sayur kacang merah, sambel goreng kentang, dan kolak pisang beberapa diantaranya.
Ah, aku jadi lapar. Kami sudah mencari sandal di sepanjang jalan pulang tapi tidak menemukannya. Kami pun terpaksa pulang dengan tangan hampa, sepatu roda tidak didapat, malah sandal hilang. Aku pun meminta maaf pada mamah.
Akhirnya mamah memutuskan untuk berangkat lagi ke Bandung di pekan depannya. Kali ini tak ada lagi insiden lepas sandal dan kami berhasil membeli sepatu roda itu di Palaguna Plaza. Senang sekali. Aku punya sepasang sepatu roda inline berwarna hijau neon. Hebring pisan.
Sepatu roda ini memori dari guruku. Mamah. Dia mendidik dari rumah dan sekolah. Aku belajar cara membaca, bagaimana bekerja keras, hingga teladan bersabar saat sakit. Identitasku banyak dibentuk mamah. Aku akan selalu bersyukur untuk itu.
Semoga ada sepatu roda untuk mamah di surga.